SHORT STORY ー by: Q






Ketika Siput Tidak Memiliki Rumah

by: Q




Hujan turun rintik-rintik, membasahi jalanan ber aspal di kota itu. Langit tampak gelap gulita, seolah memberikan penderitaan bagi makhluk-makhluknya. Orang sibuk berlalu lalang, menutupi kepalanya dengan tangan, mencari tempat aman untuk' berteduh '. 


Bira, seorang gadis dengan usia 14 tahun ini menatap sendu keluar jendela. Tatapannya seolah menggambarkan kekosongan yang ada di dalam dirinya. Bira adalah gadis yang pintar, ceria, dan ramah. Dia bagaikan matahari yang menerangi orang-orang di sekitarnya. Meski bisa dibilang usianya masih muda, namun pikirannya kadang merasa jauh lebih dewasa dari teman-teman sebayanya. Mungkin karena sejak 7 tahun yang lalu, kehidupan Bira berubah total. Tepat ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.




Memori kelam yang tidak mau ia ingat terus terbayang. Pecahan kaca berserakan di atas keramik putih, teriakan, dan pukulan yang masih terekam jelas di memori Bira. Awalnya dia masih tidak mengerti apa arti perceraian. Yang ia tahu sekarang papanya tidak lagi ikut sarapan bersama, dan tidak ada lagi tawa di ruang tamu pada malam Minggu. Bangunan yang disebut rumah itu seolah mengetahui apa yang terjadi. Sebagai gantinya, ada keheningan yang lama-lama menjadi biasa. Lalu kebiasaan kecil itu hilang satu per satu, seperti sungai yang mengalir tanpa suara.




Papanya pindah ke kota lain dan menikah lagi. Bira pernah bertemu keluarga barunya, seorang wanita yang selalu ramah dan seorang anak kecil yang lucu. Semuanya terlihat baik-baik saja, setidaknya di permukaan. Tapi ia tahu, sebenarnya hatinya belum siap menerima semua itu. Terlalu cepat baginya untuk memahami itu semua. Setiap kali ia ke sana ia merasa asing, bagaikan seorang tamu yang mampir dengan duduk sopan, dan menjawab pertanyaan singkat, sampai menunggu waktunya pulang.




Sementara di rumah, ibunya sibuk bekerja dan... sibuk jatuh cinta lagi. Ada pria baru yang mulai sering datang, memperkenalkan diri dan mengajaknya mengobrol. Hal itu sudah terasa tak asing bagi Bira, bagaikan rutinitas yang dia jalankan setiap pagi. Mereka bilang pria itu baik, dan penuh perhatian. Tapi Bira hanya merasa semakin kecil di rumah yang dulu ia sebut tempat berpulang.




Suatu pagi, di kelas Biologi, pak guru menjelaskan tentang siput. "Siput membawa rumahnya kemana-mana, karena itu ia bisa merasa aman di mana pun ia berada," ujar pak guru. Bira mendengarkan dengan baik, tapi pikirannya terbang jauh.


Bagaimana kalau si siput kehilangan rumahnya? Apa ia masih bisa merasakan aman?


Pertanyaan itu melekat di benaknya. Bira merasa seperti siput itu. Ia tertawa bahagia di sekolah. Tapi dalam dirinya, ia bingung ke mana harus pulang. Ia kehilangan 'rumah' --- bukan sebuah bangunan, tapi rasa aman, tempat berbagi, dan tempat untuk berpulang.





Ada malam ketika Bira ingin menangis di pelukan kedua orang tuanya. Tapi ia mendengar suara gelak tawa dari ruang tamu, dari percakapan sang ibu dengan pacarnya. Ada waktu ketika ia ingin sekali bercerita pada sang ayah, menceritakan hari-hari Bira selama di sekolah. Hari dimana Bira merasa sedang terpuruk, dan hari dimana Bira merasa kesepian dan dimana ia merasa sangat bahagia. Tetapi ayahnya sibuk dengan si kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan.





Di saat-saat seperti itu, Bira hanya punya dirinya sendiri. Ia menulis dan bercerita banyak hal di dalam buku hariannya. Dimana ia bisa jujur, bisa marah, bisa rapuh. Buku itulah satu-satunya tempat ia bisa berkeluh kesah, tempat dimana tidak ada yang dapat menilainya. Hanya mendengarkan. Suatu malam, saat hujan turun deras dan petir menggema mengisi seluruh kamar, Bira menulis:



"Aku merasa seperti siput yang kehilangan rumah. Aku tidak tahu di mana harus merasa aman. Tidak tahu kepada siapa aku harus berpulang. Tidak tahu kepada siapa aku bisa bercerita banyak hal tentang keseharian ku. Tapi aku harap suatu hari nanti, aku bisa menemukan rumah, bukan dalam bentuk bangunan, tapi dalam bentuk kehangatan, dan tawa, atau mungkin... diriku sendiri."





Air mata jatuh, membasahi kertas putih yang tercoret itu. Tapi entah kenapa, malam itu Bira merasa lebih tenang. Mungkin karena akhirnya ia bisa jujur walau hanya pada kertas.




Keesokan harinya, Bira bangun dengan perasan berbeda. Bukan karena masalah yang dia alami telah selesai. Papanya tetap sibuk dengan keluarganya, mamanya tetap sibuk dengan dunianya. Tapi ia mulai percaya kepada dirinya sendiri. Jika ia tidak memiliki rumahnya sendiri. Ia bisa membangunnya sendiri, tapi bukan dalam bentuk fisik. Rumah bisa jadi kehangatan, bisa jadi rasa aman, atau bisa jadi... dirinya sendiri yang sedang belajar kuat.




Bira tidak langsung sembuh dari lukanya. Tapi ia mulai menanam benih harapan. Ia mulai belajar mencintai kehidupannya, mulai memaafkan keadaan yang ada. Karena ia tahu, dunia akan tetap berputar meski tahu betapa kejamnya dunia kepada Bira. Ia mulai menuliskan puisi, dan mendengarkan lagu favoritnya. Ia perlahan membangun tumah itu sedikit demi sedikit di dalam hatinya.


Dan mungkin, hanya mungkin, menjadi siput tanpa rumah bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin, menjadi siput tanpa rumah adalah awal dari perjalanan dimana ia mencari tempat yang benar-benar pantas disebut 'rumah'.








Komentar

Postingan Populer