SHORT STORY ー by: Q

 






Cahaya di Ujung Lautan

by: Q


Di tepi dermaga yang sepi, seorang gadis bernama Aira duduk menatap hamparan laut. Malam itu angin bertiup pelan, membawa aroma asin yang menusuk hidung. Langit tampak gelap dan berkabut, suara ombak mendominasi malam itu. Pandanganku terpaku pada cahaya redup di ujung lautan. Cahaya itu begitu jauh, seperti berusaha menembus kegelapan malam, namun nyaris kalah oleh gelapnya samudra.

Aira mengerjapkan mata. Ia bertanya dalam hati, “Mengapa cahaya itu begitu kecil, seolah berjuang sendirian?”



Perlahan, ia menoleh ke kanan. Matanya langsung disambut oleh deretan gedung-gedung tinggi di pusat kota. Dari balik jendela-jendela kaca, cahaya lampu berkilauan terang, memantul bak bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Begitu silau, begitu megah, begitu hidup. Jalan raya begitu ramai kendaraan berlalu lalang. Mobil-mobil mewah melintasi jalan raya yang luas itu. Beberapa kapal besar terapung di atas perairan nan luas. Terlihat lampu-lampu dari kapal terang benderang menghiasi laut di malam itu. 


Namun, ketika menoleh ke kiri, ia melihat sesuatu yang berbeda. Rumah-rumah kecil, gelap, nyaris tanpa penerangan. Perahu usang berjejer di samping perairan dekat perkampungan itu. Beberapa nelayan terlihat membawa jaring berisi tangkapan ikan. Nelayan itu berjalan di jalan sempit yang hanya diterangi oleh satu dua bohlam tua yang meredup, seperti sedang sekarat. Kontras itu menusuk hatinya.



Aira kembali menatap lautan. Kosong. Aira menatap kosong lautan yang terpampang luas di depan matanya. Cahaya redup di ujung sana seolah berbicara kepadanya. Seakan ingin mengatakan bahwa ada harapan yang masih berusaha bertahan, meski hampir tenggelam ditelan gelap. Sedangkan cahaya gemerlap gedung-gedung megah itu, meski indah, seakan menutupi kenyataan bahwa tak semua orang bisa merasakan terang yang sama.


Ia menghela napas panjang. “Betapa besar jurang di negeri ini,” gumamnya lirih.


Yang satu berlimpah cahaya, terlalu terang hingga menyilaukan. Yang lain, terseok di dalam kegelapan, hanya ditemani secercah redup yang hampir padam.


Di dadanya tumbuh perasaan getir, tetapi juga tekad. Aira percaya, cahaya redup itu tak boleh dibiarkan mati. Karena di balik redupnya, ada harapan. Secercah harapan kecil para pemimpi. Harapan bahwa suatu hari, terang tak hanya milik gedung-gedung tinggi, tapi juga milik mereka yang hidup di pinggiran gelap.


Dan malam itu, di tepi laut, Aira berjanji pada dirinya sendiri: ia akan menjadi seseorang yang membantu cahaya redup itu tumbuh, hingga tak ada lagi kesenjangan seterang malam yang baru saja ia saksikan.













Berikan saran, dan pendapat kalian terkait cerpen ini! 

Terima kasih!!




-Q


Komentar

Postingan Populer