CONTOH TEKS DESKRIPSI ー Bahasa Indonesia
SAAT KANTIN KEHILANGAN KETENANGANNYA
Pada jam pelajaran terakhir sebelum istirahat, kantin SMPN 160 selalu tampak tenang.
Dari kejauhan, bunyi cipratan minyak yang terdengar pelan di sudut ruang , dan aroma sambal yang memenuhi seluruh kantin.
Tempat sampah di sisi kantin berbaris rapi dan masih kosong, sementara lantai di panggung dekat kantin masih bersih.
Penjaga kantin, seorang ibu paruh baya, sibuk menyiapkan piring, menata gorengan di baki, dan menuang sirup merah ke dalam deretan gelas bening. Aroma harum tempe mendoan dan mie goreng yang mengepul di wajan memenuhi udara, membuat siapa pun yang lewat pasti tergoda.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ketika bel istirahat berbunyi keras,
— kringggggg!!! —
suasana yang semula tenang seketika pecah. Dari segala penjuru koridor, ratusan siswa berlari menuju kantin, seperti gelombang manusia yang tak bisa dibendung. Langkah kaki bergemuruh, tawa dan teriakan bercampur menjadi satu. Dalam hitungan detik, kantin yang tadi sunyi berubah menjadi lautan suara dan gerakan yang kacau.
“IBUUUU GORENGANNYA SATUUU.” teriak seorang siswa sambil mendorong temannya.
“IH, APASIH! Jangan dorong-dorong donggg!” balas yang lain dengan nada kesal.
Suara mereka bergema memenuhi kantin.
Beberapa siswa berbicara dengan nada keras, bahkan tak jarang keluar kata-kata kasar dari mulut mereka.
Ucapan yang seharusnya tidak pantas terdengar di lingkungan sekolah meluncur begitu saja, seolah-olah mereka tengah berada di pasar, bukan di tempat menuntut ilmu. Suara tawa keras dan ejekan antar teman membuat suasana makin riuh dan bising.
Di panggung, terlihat siswa-siswi makan dengan tergesa. Ada yang menumpahkan minuman, ada pula yang mencomot makanan tanpa antre. Sendok berdenting, piring beradu, dan gelas bergemerincing—semuanya bersatu menjadi simfoni kebisingan khas waktu istirahat di SMPN 160.
Lantai yang tadi bersih kini berubah menjadi kotor dan licin. Bekas bungkus makanan, plastik minuman, dan tisu berceceran di bawah. Sisa nasi, sambal, dan potongan cabai terlihat menempel di permukaan lantai, membuat aroma campur aduk antara minyak goreng dan saus tomat menyengat hidung.
Di sudut kantin ada beberapa meja yang penuh dengan piring dan mangkuk kotor, ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.
Penjaga kantin tampak kewalahan. Tangannya sibuk membersihkan sisa-sisa sampah yang bersebaran di tanah sambil menghela napas panjang. “Setiap hari seperti ini…” gumamnya lirih, sambil memunguti sampah dengan sapu lidi yang sudah mulai aus. Ia mencoba tersenyum, meski wajahnya tampak lelah menghadapi kekacauan yang sama setiap waktu istirahat tiba.
Beberapa menit kemudian, bel tanda masuk berbunyi lagi. Seperti ombak yang surut, para siswa perlahan meninggalkan kantin. Mereka berjalan kembali ke kelas dengan perut kenyang, tapi meninggalkan jejak kekacauan di belakang.
Meski masih ada beberapa siswa nakal yang masih bersemayam di kantin.
Namun, beberapa menit kemudian..
Kantin kembali sepi, hanya terdengar suara lalat berputar di sekitar sisa makanan, dan kipas angin yang kembali berdecit pelan.
Tempat sampah yang awalnya kosong, kini penuh terisi wadah bekas sisa makanan.
Meski begitu, masih banyak sampah berserakan yang tidak dibuang.
Kini, suasana kantin kembali seperti semula — tenang,
tapi penuh bekas kericuhan.
Meja kotor, lantai lengket, dan aroma gorengan yang masih menggantung di udara menjadi saksi bisu bahwa ketenangan dapat berubah menjadi kekacauan dalam sekejap. Semua tergantung pada bagaimana siswa menjaga kebersihan dan sikapnya di tempat umum.
-Q



Komentar
Posting Komentar